Presiden SBY Harus Beri Suaka Politik pada Pengungsi Muslim Rohingya



JAKARTA (VoA-Islam) –Jika mengaku Muslim, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) harus memberikan suaka politik pada pengungsi etnis muslim Rohingya yang lari ke Indonesia. Di Tanjung Pinang, nasib etnis yang berabad-abad hidup di Myanmar itu terlunta-lunta selama sepuluh bulan.
Dalam kunjungannya ke Rumah Detensi Imigrasi Tanjung Pinang, Rabu 25 Juli 2012, nggota Dewan Perwakilan Rakyat Herlini Amran menemukan fakta nasib etnis Muslim Rohingya yang berabad-abad hidup di Myanmar, terlunta-lunta selama sepuluh bulan di tempat pengungsian. “Mereka lari dari negaranya untuk mencari perlindungan di negara lain seperti Indonesia, namun hingga kini tidak ada kejelasan tentang nasibnya di kemudian hari,” ujar Herlini Amran.
[Read More...]


Segala Sesuatu Ada Waktunya




Imam Tirmidzi meriwayatkan : Suatu ketika sahabat Hanzhalah melintasi rumah Abu Bakar sambil menangis. Secara kebetulan Abu Bakar sedang ada di rumah dan mengetahui hal itu.
Abu Bakar kemudian mendekat. “Ada apa Sahabatku?” Tanya Abu Bakar. “Kenapa kau menangis?”

“Aku benar-benar seorang munafik, Abu Bakar,” kata Hanzhalah. “Bagaimana tidak?! Jika berada disisi Rasulullah, mendengar nasehat-nasehat Beliau, aku selalu ingat Allah dan akhirat. Namun, jika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, yang aku bicarakan banyak soal harta dan dunia serta senda gurau lainnya.”
Abu Bakar jadi merasa, ternyata dirinya selama ini juga demikian.
[Read More...]


Mangkuk yang Cantik, Madu dan Sehelai Rambut



Rasulullah SAW, dengan sahabat-sahabatnya Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan Ali r.a., bertamu ke rumah Ali r.a. Di rumah Ali r.a. istrinya Sayidatina Fathimah r.ha. putri Rasulullah SAW menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah SAW kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).
[Read More...]


Umar Bin Khattab: Sosok Pemimpin Sederhana




Memberikan teladan yang baik merupakan keharusan bagi seorang pemimpin yang menjadi panutan bagi  rakyatnya. Seperti yang pernah dilakukan oleh Umar Bin Khattab, meskipun harta kekayaanya berlimpah, namun gaya hidupnya sangat sederhana.
Dalam memandang harta, ia tak tergiur sedikit pun untuk mengambil hak orang lain. Jangankan korupsi, mengambil haknya sendiri ia enggan. Ia menggunakan hartanya untuk keperluan umat dan dakwah. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan hampir tak pernah makan kenyang demi menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah orang yang sangat kaya.
[Read More...]


Guntur Bertasbih Memuji-Nya



Sumber energi yang bergerak pada kecepatn 96.000 km/jam dan melepaskan panas 30.000o.
Pernahkah anda berpikir bagaimana guntur–sebagai salah satu peristiwa atmosfir terhebat yang Allah ciptakan–itu terbentuk dan bagaimana ia mampu melepaskan sejumlah energi yang demikian besar?
Selama hujan, guntur dan kilat yang tersusun dari pembentukan cahaya-cahaya terang akibat pelepasan energi listrik di ruang atmosfir, sesungguhnya merupakan sumber energi yang menghasilkan listrik lebih besar dari pada ribuan pembangkit listrik–di samping sebagai fenomena iklim. Jawaban atas pertanyaan bagaimana sumber-sumber energi alam ini terbentuk dan betapa besarnya sumber-sumber tersebut melepaskan cahaya dan panas adalah sebuah keajaiban penciptaan yang mengungkapkan kebesaran dan keagungan Allah swt. yang abadi.
[Read More...]


Potret Pendidikan di Negara Tercinta




Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.
Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.
Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.
[Read More...]


 
Mengutip sebagian atau keseluruhan isi blog ini ke blog Anda dipersilahkan ASAL menyebut URL sumber tulisan dan/atau permanent link artikel yg dikutip.
Semoga Bermanfaat

Pengikut

Return to top of page Copyright © 2010 | Platinum Theme Converted into Blogger Template by HackTutors